. Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Kriptanalis

I. PENGERTIAN


Kebalikan dari kriptografi adalah kriptanalisis (cryptanalysis), yaitu ilmu dan seni membuka (breaking) plainteks [Schneier, 1996]. Dan yang melakukannya disebut kriptanalis(cryptanalys). Kriptanalisis dapat menghasilkan plainteks atau kunci dan juga dapat menemukan kelemahan dalam kriptosistem. Usaha kriptanalisis disebut juga dengan attack (serangan).

II. METODE-METODE PENYADAPAN KRIPTANALISIS MODERN


1. Wiretapping, yaitu melakukan penyadapan data yang ditransmisikan melalui saluran kabel komunikasi.
2. Electromagnetic eavesdropping, yaitu melakukan penyadapan data yang ditransmisikan melalui saluran wireless.
3. Accoustic eavesdropping, yaitu menangkap gelombang suara yang dihasilkan oleh sumber suara.


III. JENIS-JENIS SERANGAN BERDASARKAN KETERLIBATAN PENYERANG


1. Serangan pasif (passive attack) yaitu serangan dimana penyerang hanya memonitor saluran komunikasi. Penyerang pasif hanya mengancam kerahasiaan data.
2. Serangan aktif (active attack) adalah serangan dimana penyerang mencoba untuk memanipulasi (menghapus, menambahkan) atau dengan cara yang lain mengubah transmisi pada saluran. Penyerang aktif mengancam kerahasiaan dan keutuhan data serta keotentikan.


IV. JENIS-JENIS SERANGAN BERDASARKAN CARA MEMBUKA CIPHERTEKS


1. Exhaustive attack
Serangan ini biasa dikenal dengan brute force attack, yaitu mengungkap plainteks atau kunci dengan mencoba kemungkinan semua kunci. Semakin panjang ukuran kunci semakin sulit dan lama waktu pemecahannya.
2. Analytical attack
Menganalisis kelemahan algoritma kriptografi untuk mengurangi kemungkinan kunci yang ada. Kriptanalis harus mengetahui algoritma kriptografinya untuk melakukan jenis serangan ini.

V. JENIS-JENIS SERANGAN BERDASARKAN DATA YANG DIMILIKI


1. Cipherteks only attack
Kriptanalis mengetahui algoritma enkripsi dan cipherteks untuk mendapatkan plainteks.Teknik yang digunakan adalah exhaustive attack.
2. Known plainteks attack
Di samping mengetahui algoritma enkripsi dan cipherteks, kriptanalis juga mengetahui beberapa plainteks yang bersesuaian.
3. Chosen plainteks attack
Disamping mengetahui algoritma enkripsi, cipherteks, dan plainteks, kriptanalis juga dapat memilih plainteks yang berhubungan dengancipherteks yang dienkripsi dengan kunci rahasia.
4. Chosen cipherteks attack
Disamping mengetahui algoritma enkripsi, cipherteks, danplainteks, kriptanalis juga dapat memilih cipherteks yang berhubungan denganplainteks yang telah didekripsi dengan kunci rahasia.
5. Chosen key attack
Kriptanalis memiliki pengetahuan mengenai hubungan antara kunci-kunci yang berbeda, dan memilih kunci yang tepat untuk mendekripsi pesan
6. Rubber-hose cryptanalysis
Kriptanalis mengancam, memeras atau memaksa seseorang hingga memberikan kuncinya.

VI. Klasifikasi kesuksesan kriptanalisis


1. Total Break
Kriptanalis berhasil menemukan kunci atau plainteks seutuhnya.
2. Global Deduction
Kriptanalis menemukan algoritma secara penuh tanpa mengetahui kunci.
3. Local Deduction
Kriptanalis mendapatkan cipherteks atau plainteks tambahan.
4. Informational Deduction
Kriptanalis mendapatkan entopy dari plain/cipher
5. Distinguishing Algorithm
Kriptanalis dapat membedakan cipher dengan hasil dari random permutasi.

Oleh Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Vigen�re Cipher

Cipher ini adalah termasuk cipher simetris, yaitu cipher klasik abjad majemuk. Karena setiap huruf dienkripsikan dengan fungsi yang berbeda. Vigen�re Cipher merupakan bentuk pengembangan dari Caesar Cipher. Kelebihan sandi ini dibanding Caesar Cipher dan cipher monoalfabetik lainnya adalah cipher ini tidak begitu rentan terhadap metode pemecahan cipher yang disebut analisis frekuensi. Giovan Batista Belaso menjelaskan metode ini dalam buku La cifra del. Sig. Giovan Batista Belaso (1553); dan disempurnakan oleh diplomat Perancis Blaise de Vigen�re, pada 1586. Pada abat ke-19, banyak orang yang mengira Vigen�re adalah penemu cipher ini, sehingga, cipher ini dikenal luas sebagai Vigen�re Cipher.

Cipher ini dikenal luas karena cara kerjanya mudah dimengerti dan dijalankan, dan bagi para pemula sulit dipecahkan. Pada saat kejayaannya, cipher ini dijuluki le chiffre ind�chiffrable (bahasa Prancis: 'cipher yang tak terpecahkan'). Metode pemecahan cipher ini baru ditemukan pada abad ke-19. Pada tahun 1854, Charles Babbage menemukan cara untuk memecahkan Vigen�re Cipher. Metode ini dinamakan Metode Kasiski karena Friedrich Kasiski-lah yang pertama mempublikasikannya.
Vig�nere Cipher menggunakan Bujursangkar Vig�nere untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Jika pada Caesar Cipher setiap huruf digeser dengan besar geseran yang sama, maka pada Vig�nere Cipher setiap huruf digeser dengan besar yang berbeda sesuai dengan kuncinya.

Tabel Bujursangkar Vig�nere

1. Enkripsi Vig�nere Cipher


    Secara matematis, enkripsi Vig�nere Cipher dengan jumlah karakter sebanyak 26 dapat ditulis dalam bentuk
ci=(pi+kjmod 26 atau
ci=(pi+kjmod n (untukVig�nere Cipher dengan jumlah karakter n)
Ket :    i = 1, 2, 3, �, (panjang kunci)
    j = (( i� 1)  mod 25) +1

Contoh (Enkripsi Vig�nere Cipher)
    Terdapat 10 karakter (n=10) yang digunakan, yaitu "A", "B", "C", "D", "E", "F", "G", "H", "I" dan "_", yang bersesuaian dengan bilangan bulat 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 (modulo 10) seperti tabel I.

Tabel I (10 Karakter dalam modulo 10)

A B C D E F G H I _
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9


Misalkan plainteks yang akan dienkripsikan adalah ADA_ECI.
Plainteks : ADA_ECI yang bersesuaian dengan 0 3 0 9 4 2 8
Dengan kunci DIA yang bersesuaian dengan 3 8 0

Tabel II (Enkripsi ADA_ECI Dengan Kunci Dia)

A
D
A
_
E
C
I
0
3
0
9
4
2
8
D
I
A
D
I
A
D
3
8
0
3
8
0
3

Maka berdasarkan tabel II :
E(A) = (0+3) mod 10 = 3 = D            E(E) = (4+8) mod 10 = 2 = C
E(D) = (3+8) mod 10 = 1 = B            E(C) = (2+0) mod 10 = 2 = C
E(A) = (0+0) mod 10 = 0 = A            E(I) = (8+3) mod 10 = 1 = B
E(_) = (9+3) mod 10 = 2 = C
Cipherteks : DBACCCB

2. Dekripsi Vig�nere Cipher


    Untuk melakukan dekripsi pada Vig�nere Cipher, digunakan kebalikan dari fungsi enkripsinya.
    Secara matematis, dekripsi Vig�nere Cipher dengan jumlah karakter sebanyak 26 dapat ditulis dalam bentuk
pi=(ci-kjmod 26 atau
pi=(ci-kjmod n (untuk Vig�nere Cipher dengan jumlah karakter n)
Ket :    i = 1, 2, 3, �, panjang kunci
    j = (( i� 1)  mod 25) +1

Contoh DekripsiVig�nere Cipher
        Terdapat 10 karakter (n=10) yang digunakan, yaitu "A", "B", "C", "D", "E", "F", "G", "H", "I" dan "_", yang bersesuaian dengan bilangan bulat 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 (modulo 10) seperti tabel I.

Misalkan cipherteks yang akan didekripsikan adalah DBACCCB.
Chiperteks : DBACCCB yang bersesuaian dengan 3 1 0 2 2 2 1
Dengan kunci DIA yang bersesuaian dengan 3 8 0

Tabel III ( Dekripsi DBACCCB Dengan Kunci DIA)

D
B
A
C
C
C
B
3
1
0
2
2
2
1
D
I
A
D
I
A
D
3
8
0
3
8
0
3


Berdasarkan tabel III :
D(D) = (3-3) mod 10 = 0 = A            D(C) = (2-8) mod 10 = 4 = E
D(B) = (1-8) mod 10 = 3 = D            D(C) = (2-0) mod 10 = 2 = C
D(A) = (0-0) mod 10 = 3 = A            D(B) = (1-3) mod 10 = 8 = I
D(C) = (2-3) mod 10 = 9 = _
    Sehingga cipherteks DBACCCB kembali menjadi plainteks ADA_ECI.

Oleh Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Keyed Columnar Transposition (KCTR)

KCTR dibuat pada tahun 1950-an, sebagai pengganti dan penyempurnaan dari algoritma SCTR yang pada waktu tersebut telah dapat dengan mudah dipecahkan oleh kriptanalis karena metodenya yang terlalu sederhana. Dengan cara mencoba satu demi satu kunci simetris yang mungkin (kunci simetris terbatas, hanya bilangan diantara satu sampai panjang chiperteks), kriptanalis hanya memerlukan selembar kertas dan pensil untuk menulis semua hasil percobaannya itu.
Ditambah lagi bila kriptanalisnya lebih dari satu orang, percobaan memecahkan chiperteks dapat dibagi-bagi berdasarkan bilangan kunci simetris. Oleh karena itu, dibuatlah algoritma SCTR baru yang kunci simetrinya menggunakan permutasi dari k bilangan asli pertama (keyword). Fungsi kunci ini jelas untuk lebih memperkuat proses enkripsi dan mempersulit proses kriptanalisis, yaitu dengan cara mengubah urutan transposisi kolom berdasarkan urutan angka kunci.

Enkripsi Keyed Columnar Transposition
Metode enkripsi KCTR adalah hampir sama dengan SCTR, yaitu membagi plainteks menjadi blok-blok dengan panjang tertentu yang kemudian blok-blok tersebut disusun dalam bentuk baris dan kolom. Namun hasil enkripsinya adalah dengan membaca secara vertikal (tiap kolom) sesuai urutan kunci.
Contoh:
Misalkan plainteks yang akan dienkripsi adalah ADA_ECI dengan kunci 2 3 1 (k = 3).
Maka plainteks akan dibagi menjadi blok-blok (3 kolom) dan disusun


A
D
A
_
E
C
I

Kemudian hasil enkripsinya adalah dengan membaca kolom-kolom secara vertikal sesuai urutan kunci (231) dari 1=A_I, 2=DE dan 3=AC sehingga plainteks ADA_ECI akan dienkripsi menjadi cipherteks : DEACA_I

Oleh Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Cipher Substitusi (Substitution Cipher)

Cipher substitusi adalah cipher dengan cara mensubstitusi huruf dengan huruf yang lain sesuai dengan yang ditetapkan.

Jenis-jenis cipher substitusi :

a. Cipher Abjad-Tunggal (Monoalphabetic Cipher)


1.  Monogram Monoalphabetic Cipher adalah cipher yang mengganti setiap huruf pada plainteks dengan huruf yang bersesuaian.

Sehingga apabila terdapat 26 huruf, maka akan terdapat 26!= 403.291.461.126.605.635.584.000.000 kemungkinan susunan huruf.

Salah satu bentuk Monogram Monoalphabetic Cipher adalah cipher yang digunakan oleh kaisar Romawi, Julius Caesar (dinamakan juga Caesar Chiper), untuk menyandikan pesan yang ia kirim kepada para gubernurnya. Yaitu dengan mengganti (menyulih atau mensubstitusi) setiap karakter dengan karakter lain dalam susunan abjad (alfabet).

 Caesar Whell

Misalnya pada Caesar Chiper, setiap huruf disubstitusi dengan tiga huruf berikutnya. Maka dalam hal ini, kuncinya adalah pergeseran tigahuruf (kunci= 3).

 
Tabel Substitusi Caesar Cipher

Contoh 1

Plainteks : AWASI ASTERIX DAN TEMANNYA OBELIX

Dengan menggunakan Caesar Cipher, maka pesan tersebut akan dienkripsi menjadi

Cipherteks : DZDVL DVWHULA GDQ WHPDQQBA REHOLA

Dan dengan melakukan dekripsi, maka pesan tersebut akan kembali menjadi pesan semula.

Denganmengkodekan setiap huruf abjad dengan bilangan bulat (integer) sebagai berikut: A = 0, B = 1, �, Z = 25, maka secara matematis Caesar Chiper menyandikan plainteks P menjadi C dengan aturan:
  dan dekripsi chiperteks C menjadi plainteks P dengan aturan:
dengan   pi : karakter ke-i dari plainteks P,

               ci : karakter ke-i dari cipherteks C.


Karena terdapat 26 huruf atau karakter, maka pergeseran yang mungkin adalah sejauh 0 sampai 25 (selebihnya akan kongruen dengan bilangan modulo 26). Secara umum, pergeseran sejauh k (kunci=k) akan mengenkripsi plainteks dengan aturan :
dan mendekripsikan cipherteks dengan aturan :
Bentuk cipher di atasa dalah merupakan generalisasi dari bentuk Caesar Cipher yang dikenal dengan nama Shift Cipher (cipher geser) dan alat yang digunakana dalah Caesar whell. Akan tetapi, Shift Cipher ini sangat mudah dipecahkan karena hanya terdapat 26 kunci yang mungkin. Sehingga cukup dengan exhaustive attack maka cipherteks akan mudah di buka.


Contoh 2
Cipherteks : FLQWD

Dengan kriptanalisis menggunakan exhaustive attack, maka pengkriptanalisisan dari kata FLQWD dapat dilihat pada tabel di bawah. Jika diketahui bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, maka kata yang memiliki makna adalah kata dengan kunci k = 23, yaitu �CINTA�.


Tabel Exhaustive Attack


Namun dalam suatu plainteks mungkin saja terdapat dua atau lebih kata yang bermakna. Karena itu dibutuhkan informasi lain yang dapat membantu, seperti beberapa kata berikutnya dalam suatu tulisan).

2.  Polygram Monoalphabetic Cipher adalah cipher yang bekerja dengan mengganti blok pada plainteks dengan blok lain yang sesuai. Misalkan NG diganti dengan XY, NYA diganti dengan TUT dan seterusnya. Apabila unit huruf pada plainteks atau cipherteks panjangnya 2 huruf maka ia disebut digram (biigram), jika 3 huruf disebut ternari-gram dan seterusnya.

Salah satu contoh Cipher Substitusi Poligram adalah Playfair Cipher. Sandi Playfair digunakan oleh Tentara Inggris pada saat Perang Boer II dan Perang Dunia I. Ditemukan pertama kali oleh Sir Charles Wheatstone dan Baron Lyon Playfair pada tanggal 26 Maret 1854.

Playfair merupakan digraphs cipher, artinya setiap proses enkripsi dilakukan pada setiap dua huruf. Misalkan plainteksnya �MENCINTA�, maka menjadi �ME NC IN TA�.Apabila panjang plainteks ganjil, maka ditambahkan satu karakter dummy di akhir plainteks. Misalkan plainteksnya �ME NC IN TA IM UX�.Playfair Cipher menggunakan tabel 5�5. Semua alphabet kecuali J diletakkan ke dalam tabel. Huruf J dianggap sama dengan huruf  I, sebab dalam Bahasa Inggris huruf J mempunyai frekuensi kemunculan yang paling kecil. Kunci yang digunakan berupa kata dan tidak ada huruf sama yang berulang. Misalkan kuncinya �MATEMATIKA�, maka kunci yang digunakan adalah �MATEIK�. Selanjutnya, kunci dimasukkan kedalam tabel 5�5, isian pertama adalah kunci, kemudian tulis huruf-huruf berikutnya sesuai urutan alphabet dari baris pertama dahulu, bila huruf telah muncul, maka tidak dituliskan kembali.

Tabel Playfair Cipher dengan Kunci MATEMATIKA


Aturan-aturan proses enkripsi pada Playfair :

a. Jika kedua huruf tidak terletak pada baris dan kolom yang sama, maka huruf pertama menjadi huruf yang sebaris dengan huruf pertama dan sekolom dengan huruf kedua. Huruf kedua menjadi huruf yang sebaris dengan huruf kedua dan sekolom dengan huruf pertama.Contohnya, AN menjadi EH, YG menjadi VN.

 b. Jika kedua huruf terletak pada baris yang sama maka huruf pertama menjadi huruf setelahnya dalam baris yang sama, demikian juga dengan huruf kedua. Jika terletak pada kolom kelima, maka menjadi kolom pertama, dan sebaliknya. Contohnya, AE menjadi TI, CF menjadi DK.

 c. Jika kedua huruf terletak pada kolom yang sama maka hurufp ertama menjadi huruf dibawahnya dalam kolom yang sama, demikianjugadenganhurufkedua. Jika terletak pada baris kelima, maka menjadi baris pertama, dan sebaliknya.Contohnya, MV menjadi KM, AB menjadi BH, DH menjadi HY.

 d. Jika kedua huruf sama, maka letakkan sebuah huruf di tengahnya (sesuai kesepakatan). Contohnya, padaplainteks ADAANDA, menjadi AD AX AN DA

 e. Jika jumlah huruf plainteks ganjil, maka tambahkan satu huruf pada akhirnya (setelah aturan d).


Contoh 3
Misalkan plainteks = SEMUAADA

Enkripsi dengan kunci MATEMATIKA

Berdasarkan aturan (d) Playfair Cipher, SE MU AA DA, akan menjadi SE MU AX AD A (ditambahkan karakter dummy �X�). Karena setelah penambahan karakter dummy plainteks menjadi ganjil, maka pada akhir plainteks ditambahkan lagi dengan karakter dummy menjadi SE MU AX AD AX.

Cipherteks : YD IP TW EB TW = YDIPTWEBTW

b. Cipher Abjad-Majemuk (Polyalphabetic Substitusion Cipher)


Pensubstitusian setiap huruf menggunakan kunci yang berbeda. Cipher abjad-majemuk terdiri dari beberapa cipher abjad tunggal yang berbeda-beda. Kebanyakan cipher abjad-majemuk adalah cipher substitusi periodik.

Misalkan plainteks P = p1p2...

maka cipherteks = f1(p1)f2(p2)...

Contoh Cipher Abjad-Majemuk adalah Vig�nere Cipher.



Oleh Lalu Galih Gasendra


Pustaka:

�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.

�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.

�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.

�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.

�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.

�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc. 

Cipher Transposisi (Transposition Cipher)

Pada chiper transposisi, plainteks tetap sama, tetapi urutannya diubah. Dengan kata lain, algoritma ini melakukan transpose terhadap rangkaian karakter di dalam teks. Nama lain untuk metode ini adalah permutasi, karena transpose setiap karakter di dalam teks sama dengan mempermutasikan karakter-karakter tersebut.

    Beberapa contoh cipher transposisi, antara lain :

a. Simple Columnar Transposition (SCTR)


Simple Columnar Transposition (SCTR) dibuat sekitar tahun 1940-an. Pada waktu itu SCTR digunakan oleh Sekutu untuk menandingi alat kriptografi buatan Jerman enigma untuk menjaga kerahasiaan pesan yang dikirimkan pada Perang Dunia II.
Metode enkripsi SCTR adalah cukup sederhana, yaitu dengan membagi plainteks menjadi blok-blok dengan panjang kunci (k) tertentu yang kemudian blok-blok tersebut disusun dalam bentuk baris dan kolom. Terdapat dua metode yang digunakan apabila panjang plainteks (n) tidak habis dibagi oleh kunci (k). Pertama adalah irregular case, yaitu melakukan enkripsi tanpa merubah plainteks dan yang kedua adalah regular case yaitu melakukan enkripsi setelah menambahkan karakter-karakter dummy (pad) sebanyak d dengan 0<d<n sehingga panjang plainteks habis dibagi kunci. Dan hasil enkripsinya adalah dengan membaca secara vertikal (tiap kolom) sesuai urutan kolom.

Contoh 2.5
Misalkan plainteks = AKUCINTAKAMU
Enkripsi dengan kunci = 5:

Cipherteks : ANMKTUUACKIA

Contoh 2.6
Misalkan plainteks = AKUCINTAKAMU
Enkripsi dengan kunci = 5

Cipherteks : ANMKTUUAXCKXIAX

b. Rail Fence Cipher


Algoritma ini melibatkan penulisan plainteks sehingga mempunyai baris atas dan baris bawah yang terpisah. Urutan karakter pada baris atas akan diikuti oleh karakter berikutnya pada baris bawahnya, dan seterusnya hingga n-rail. Apabila penulisan kebawah sudah mencapai n, maka penulisan dilakukan kebaris atasnya. Bila penulisan keatas jugasu dah mencapai n-rail, maka penulisan dilakukan seperti awal.Kemudian hasil cipherteks dibaca secara horizontal.

Contoh 2.7
Plainteks : AKUCINTAKAMU
Enkripsi dengan kunci k = 3, offset = 0

Cipherteks = AIKKCNAAUUTM

Contoh 2.7
Plainteks : AKUCINTAKAMU
Enkripsi dengan kunci k = 3, offset = 3

    Cipherteks = KNAAUITKMCAU

c. Route Cipher


Dalam algoritma route cipher, plainteks dituliskan ke dalam suatu dimensi yang sudah ditentukan (baris dan kolom), kemudian pembacaannya sesuai dengan pola yang diberikan pada kunci.

Contoh 2.8
Plainteks : AKUCINTAKAMU
Enkripsi dengan kunci kolom = 4, spiral kedalam, negatif (searah jarum jam) kanan-atas.


Cipherteks = CAUMAKIAKUTN

Oleh Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Kriptografi Klasik

Kriptografi klasik adalah kriptografi yang digunakan pada masa-masa terdahulu. Di mana kriptografi digunakan untuk mengirim pesan-pesan rahasia penting yang tidak boleh bocor oleh pihak lain. Tercatat bahwa sekitar 4000 tahun yang lalu, bangsa mesir telah menggunakan hieroglyph tidak standar untuk menulis pesan. Sebenarnya, pada zaman Yunani kuno (400 SM) kriptografi sudah mulai dipelajari dan digunakan. Pada mulanya, kriptografi hanya populer dalam bidang militer, yaitu untuk menyandikan pesan rahasia panglima perang ke pasukan garis depan.
Kriptografi klasik termasuk kedalam kriptografi simetris karena kunci untuk mengenkripsi dan mendekripsi pesan adalah sama. Kriptografi klasik terbagi menjadi dua, yaitu cipher substitusi (substitution cipher) dan cipher transposisi (transposition cipher).

Gambar hieroglyph

by Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Algoritma Kriptografi

Algoritma adalah urutan langkah-langkah logis untuk menyelesaikan suatu masalah yang disusun secara sistematis [Munir, 2004]. Langkah-langkah tersebut harus logis, ini berarti nilai kebenarannya harus dapat ditentukan benar atau salah.
Algoritma kriptografi adalah bagian dari kriptografi yang berisi kumpulan langkah-langkah logis yang digunakan untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Biasanya langkah-langkah ini berupa sekumpulan fungsi matematik. Berdasarkan kuncinya, algoritma kriptografi dibedakan menjadi dua, yaitu algoritma simetris (kunci privat) dan algoritma asimetris (kunci publik).


Algoritma Simetris

Pada kriptografi simetris, kunci yang digunakan untuk melakukan enkripsi sama dengan kunci yang dipakai untuk melakukan dekripsi. Sehingga pembuat pesan dan penerima pesan harus memiliki kunci yang sama, dan kunci inilah yang harus dirahasiakan. Istilah lain untuk enkripsi dan dekripsi ini adalah kriptografi kunci privat (private-key cryptography) atau kriptografi kunci rahasia (secret-key cryptography).

Skema Algoritma Simetris

Beberapa jenis algoritma simetris antara lain OTP, DES, RC2, RC4, RC5, RC6, IDEA, Twofish, Magenta, FEAL, SAFER, LOKI, CAST, Rijndael (AES), Blowfish, GOST, A5, Kasumi dan lain-lain.

Algoritma Asimetris

Algoritma kriptografi asimetris adalah algoritma yang menggunakan kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan deskripsinya. Algoritma asimetris juga sering disebut algoritma kunci publik (public key) karena kunci untuk enkripsinya dibuat umum (kunci publik). Sedangkan kunci yang harus dirahasiakan adalah privat key (kunci pribadi) yaitu kunci untuk mendekripsikan cipherteks.

Skema Algoritma Asimetris

Beberapa jenis algoritma asimetris antara lain skema enkripsi Elgamal, RSA, Diffie � Hellman (DH), DSA (Digital Signature Algorithm) dan lain-lain.

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.

Kriptografi

Definisi Kriptografi

Kriptografi (cryptography) berasal dari Bahasa Yunani: �crypt�s� artinya �secret� (rahasia), sedangkan �gr�phein� artinya �writing� (tulisan). Jadi, kriptografi berarti �secret writing� (tulisan rahasia). Ada beberapa definisi kriptografi antara lain : Kriptografi adalah ilmu matematika untuk mengenkripsi dan mendekripsi data [PGP, 2004]; Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data, serta otentikasi [Menezes, 1996]; Kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga keamanan pesan (Cryptography is the art and science of keeping messages secure) [Schneier, 1996] dan dilakukan oleh kriptografer (cryptographer).


Terminologi Kriptografi

Plainteks (Plaintext) atau cleartext (P) adalah pesan yang dimengerti atau belum disandikan. Sedangkan cipherteks (ciphertext) (C) adalah pesan yang telah disandikan. Enkripsi (encryption) adalah proses untuk merubah plainteks menjadi chiperteks. Sebaliknya Dekripsi (decryption) adalah proses merubah chiperteks menjadi plainteks.
Sistem kriptografi (Cryptographic system) atau kriptosistem (cryptosystem) adalah suatu fasilitas untuk mengkonversikan plainteks ke cipherteks dan sebaliknya. Dalam sistem ini, seperangkat parameter yang menentukan transformasi pencipheran tertentu disebut suatu set kunci. Proses enkripsi dan dekripsi diatur oleh satu atau beberapa kunci kriptografi. Sedangkan algoritma-algoritma kriptografi disebut cipher.
Secara umum, proses enkripsi dan dekripsi dapat ditunjukkan seperti gambar berikut.

Secara matematis proses enkripsi dapat ditulis
E(P)=C
di mana fungsi enkripsi E memetakan plainteks P ke cipherteks C, dan sebaliknya proses dekripsi dapat ditulis
D(C)=P
di mana fungsi D memetakan cipherteks C menjadi plainteks P. Sehingga dari kedua persamaan di atas didapatkan
D(E(P) )=P dan
E(D(C))=C

by Lalu Galih Gasendra

Pustaka:
�Baldoni, M.W., Ciliberto, C., & Piecantini Cattaneo, G.M. (2009). Elementary Number Theory, Cryptography and Codes. Heidelberg: Springer.
�Lidl, R., & Pilz, G.(1997). Applied Abstract Algebra, Second Edition. New York: Springer.
�Menezes, A. J. ,van Oorschot, P. C, and Vanstone, S. S. (1996). Handbook of Applied Cryptography. USA: CRC Press, Inc.
�Munir, R. (2004). Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.
�PGP. (2004). An Introduction to Cryptography. New York: PGP Corporation.
�Schneier, B. (1996). Applied Cryptography: Protocols, Algorithms, and Source Code in C, 2nd edition. John Wiley and Son, Inc.